Militer.ID – Menempa dan menjadi seorang prajurit komando, sesungguhnya memiliki sebuah aturan dasar : keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.Prajurit Komando adalah prajurit pilihan. Dan masalah yang diberikan pada pasukan komando sesungguhnya merupakan masalah yang khusus, kompleks dan juga terpilih.

Mayjend TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo menerangkan, pada dasarnya para calon prajurit komando diambil dari pasukan reguler yang selanjutnya melewati proses seleksi, mendapat pendidikan tambahan yang bersifat khusus dan spesial. Dan pada dasarnya, dari sekian banyak pelamar yang berasal dari tentara yang telah menyelesaikan Dikma/Diktuk, Diksarcab tidak semuanya lolos atau diterima menjadi calon prajurit komando dan nantinya akan menjadi seorang prajurit komando.

Mayjend TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo pun menambahkan prajurit komando merupakan tentara pilihan yang digerakkan sebagai jawaban terakhir, andai terjadi sebuah konflik dan prajurit komando diturunkan maka bagaimana pun caranya konflik tersebut harus tuntas. Dan seandainya jika belum tuntas, harus diselesaikan bagaimanapun caranya.

 

Dan cara menjadi prajurit komando yakni dari Kopassus akan membentuk tim perekrut/recruitmen yang mendatangi rindam-rindam untuk melakukan seleksi kepada para prajurit TNI yang telah menyelesaikan Diksarcab/Diksus kepada perwira yang berusia di bawah 35 tahun, atau kepada bintara dan tamtama yang berusia di bawah 27 tahun.

Kegiatan rekrutmen tersebut dikenal dengan istilah “werving” yang terdiri dari serangkaian tes kesehatan, fisik, akademis dan psikologi. Dan setelah melewati proses seleksi dan dipilih, prajurit yang memenuhi kriteria tersebut akan dikirim ke Markas Komando Pasukan Khusus di Cijantung selanjutnya dipersiapkan untuk menghadapi pendidikan Komando di Batujajar, Jawa Barat.

Dan juga salah satu faktor terpenting yakni seorang prajurit tersebut haruslah memiliki minat untuk menjadi seorang prajurit komando. Mayor Parno mengungkapkan, meskipun seorang prajurit tersebut memiliki kemampuan dan memenuhi kriteria sebagai seorang prajurit komando namun tidak memiliki minat maka akan percuma dan jika dipaksakan akan menyusahkan.

Dari wawancara yang dilakukan dengan beberapa prajurit komando, ternyata motivasi utama mereka adalah kebanggaan menjadi tentara yang ‘khusus,’ tentara yang lebih dari tentara lain. Lebih berat latihannya, lebih ketat seleksinya hingga lebih besar tantangannya, itulah yang mereka cari.

Dan tentu saja motivasi mendasar adalah mengabdi kepada Tanah Air, namun mengabdi dengan cara khusus adalah kebanggaan.

 

Sumber : Buku Kopassus Untuk Indonesia, Red & White Publishing.