Konsep kebersamaan tersebut yang tidak asing bagi semua prajurit. Dari pangkat Jenderal hingga tamtama, sangat mengenal konsep tersebut yang berasal dari kisah sama rasa sepenanggungan ketika menjalani pendidikan komando selama tujuh bulan di Batujajar.

 


Mayjend TNI Pramono Edhie Wibowo menerangkan, konsep tersebut didapat dari latihan yang sama-sama menderita. Dikenang olehnya, dalam menjalani pendidikan Komando, dirinya pernah merasakan satu tempat makan bertiga bersama dengan sersan. Dan menurutnya itu bukan hal aneh, itu biasa. Jika prajurit tidak pernah merasakan hal tersebut, dia tidak akan pernah sayang kepada rekannya.

“Satuan lain sering keheranan jika melihat hubungan Perwira dan Prajurit Kopassus saat berpatroli di dalam rimba di daerah pertempuran. Prajurit dan perwira tidak dipisahkan oleh hubungan kepangkatan yang kaku. Prajurit hingga Jenderal ditempa dalam latihan dasar dan pendidikan yang sama. Semua itu didasari oleh persaudaraan untuk mencapai hasil bersama,” ungkap Letkol Farid Makruf.

 

 

Kopassus juga tidak bergerak dalam unit besar. Layaknya pasukan elit yang ada di dunia, mottot ‘cepat, senyap dan mematikan’ merupakan patokan dasar bagi Kopassus. Setiap individu ditempa untuk memiliki kemampuan tempur selaksa orang yang menyusup dan menghancurkan garis belakang lawan hingga mendudukan pihak yang berseteru untuk berjabat tangan berdamai. Kopassus, harus bisa menjadi prajurit tempur yang mampu berdiplomasi.

 

Sumber : Buku Kopassus Untuk Indonesia, Red & White Publising

1 2