Dan bermula pada sebuah eksperimen dua kompi bergerak dalam operasi Gerakan Banteng Nasional dalam menumpas DI/ TII pada Mei 1952. Bahkan pasukan dari BR ini, kelak juga menjadi cikal bakal terbentuknya pasukan RPKAD.

Satu tahun kemudian, pada Maret 1953, di balai kota Tegal diresmikan Batalion 431/Banteng Raiders dengan semboyan “pantang mundur”. Dan kini batalion ini bernama Batalion 400/Raiders yang bermarkas di Srondol Semarang, Jawa Tengah.

Pada tahun 1960an, metode pendidikan Raider mirip dengan pelatihan komando RPKAD (Kopassus). Mulai dari nama materi hingga tradisi ala Secako yang tidak mengenal kepangkatan dari tamtama sampai perwira.

Semua dilatih dengan standar sebagai seorang Raider, keras dan brutal. Di medan latihan, mereka berpindah pindah, dari basecamp satu ke yang lain.

Pelatih Raider ketika itu merupakan Tim Pelatih Raider dari RPKAD dan tim Pelatih Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) KODAM setempat, yang telah lebih dulu memiliki kualifikasi Raider.

Dalam sebuah pelatihan pendaratan laut yang dilakukan di Pantai Meneng dan di Selat Bali. Para instruktur KKO-ALRI (Marinir) yang sempat menyaksikan latihan tersebut heran melihat kerasnya para pelatih RPKAD dalam melatih para calon prajurit Raider.

Menjadi celaka bagi setiap anggota GAM apabila keberadaannya sudah terendus pasukan Raider, karena kecil kemungkinannya bisa lolos. Jadi dari sini kita semua pasti memahami betapa mengagumkan keahlian yang dimiliki oleh pasukan ini sehingga patut menjadi perhitungan bagi pasukan musuh untuk menghadapi mereka.

 

Sumber : Instagram @Matapadi

 

1 2
No more articles