Militer.ID – Bertempur tanpa rasa takut tetapi tidak nekad, merangkul namun waspada, mendamaikan kubu yang berseteru dan menghargai perbedaan, itu merupakan sosok Prajurit Komando Pasukan Khusus TNI AD. Hingga saat ini, portfolio Kopassus sangat beragam dikenal oleh masyarakat luas baik dalam Negeri maupun luar Negeri.

Kopassus merupakan satuan unik. Berbeda dengan angkatan lain seperti TNI AL dengan prajurit Marinirnya, dan TNI AU dengan Prajurit Paskhasnya yang merupakan Korp Komando/Tempur dari matra tersebut, sedangkan Prajurit Kopassus merupakan gabungan dari berbagai macam korps.

Dan salah satu hal unik adalah, kesetaraan dan kebersamaan menjadi landasan seorang Prajurit Kopassus yang tidak dimiliki oleh satuan lain TNI. Bisa dibayangkan, seorang perwira bisa saja dihukum oleh seorang pelatih dengan pangkat lebiih rendah saat latihan. Ketaatan dan kepatuhan ketika berlatih merupakan hal yang tidak bisa ditawar oleh pangkat atau status sosial apa pun.

Konsep kebersamaan tersebut yang tidak asing bagi semua prajurit. Dari pangkat Jenderal hingga tamtama, sangat mengenal konsep tersebut yang berasal dari kisah sama rasa sepenanggungan ketika menjalani pendidikan komando selama tujuh bulan di Batujajar.

 


Mayjend TNI Pramono Edhie Wibowo menerangkan, konsep tersebut didapat dari latihan yang sama-sama menderita. Dikenang olehnya, dalam menjalani pendidikan Komando, dirinya pernah merasakan satu tempat makan bertiga bersama dengan sersan. Dan menurutnya itu bukan hal aneh, itu biasa. Jika prajurit tidak pernah merasakan hal tersebut, dia tidak akan pernah sayang kepada rekannya.

“Satuan lain sering keheranan jika melihat hubungan Perwira dan Prajurit Kopassus saat berpatroli di dalam rimba di daerah pertempuran. Prajurit dan perwira tidak dipisahkan oleh hubungan kepangkatan yang kaku. Prajurit hingga Jenderal ditempa dalam latihan dasar dan pendidikan yang sama. Semua itu didasari oleh persaudaraan untuk mencapai hasil bersama,” ungkap Letkol Farid Makruf.

 

 

Kopassus juga tidak bergerak dalam unit besar. Layaknya pasukan elit yang ada di dunia, mottot ‘cepat, senyap dan mematikan’ merupakan patokan dasar bagi Kopassus. Setiap individu ditempa untuk memiliki kemampuan tempur selaksa orang yang menyusup dan menghancurkan garis belakang lawan hingga mendudukan pihak yang berseteru untuk berjabat tangan berdamai. Kopassus, harus bisa menjadi prajurit tempur yang mampu berdiplomasi.

 

Sumber : Buku Kopassus Untuk Indonesia, Red & White Publising

No more articles