2   +   9   =  

Perintah yang berasal dari Komando Mandala sangat jelas dan tegas untuk segera mendaratkan pasukan sebanyak-banyaknya di wilayah Papua guna melancarkan Operasi Jayawijaya. Saat itu, wilayah Papua masih bernama Holandia. Belanda sangat enggan menyerahkan pulau tersebut pada Indonesia sesuai hasil dari KMB atau Konferensi Meja Bundar.

Misi Rahasia Ini Dimulai Tahun 1962 Oleh Prajurit KRI Tjandrasa

Pada tahun 1962, Papua masih sangat dipertahankan oleh Belanda. Persiapan perang sudah disiapkan, dari mulai deretan kapal perang, pasukan marinir sampai sejumlah kapal tempur khusus.  Karena kondisi tersebutlah Soekarno akhirnya menggelar sebuah operasi militer besar-besaran dalam rangka perebutan Papua dari kekuasaan Belanda.

Salah satu fase dari Operasi Jayawijaya yaitu agar bisa menyusupkan infiltran ke wilayah Papua. TNI, sebagai pasukan elit di Indonesia seperti Resimen Para Komando AD atau yang saat ini dikenal dengan nama Kopassus, Banteng Raide, Komando Pasukan Gerak Thepat yang sekarang adalah Paskhas TNI AU, mulai diterjunkan menggunakan pesawat C-130 Hercules di belantara Papua.

Misi tersebut adalah untuk merebut Biak atau kota lain yang masih dikuasai oleh Belanda. Minimal mereka bisa mengalihkan perhatian tentara Belanda ketika terjadinya Operasi Jayawijaya sedang digelar.

Namun, ada 1 misi sangat khusus yang saat itu tidak biasa. Yaitu menyusupkan pasukan elit ke bagian belakang garis musuh dengan memakai kapal selam. Sepanjang masa sejarahnya, TNI baru sekali menjalankan misi tersebut.

KRI Tjandrasa-408

Awal tahun 1960-an, persenjataan yang dimiliki TNI tidak kalah dengan negara barat lainnya. Misalnya saja, TNI AL yang baru kedatangan beberapa kapal perang ditambah 12 kapal selam paling canggih dari Uni Soviet. Sehingga Komando Mandala melihat bahwa misi tersebut akan sangat mungkin dijalankan karena perlengkapan perang yang memadai.

Sedangkan untuk pasukan yang dipilih, diantaranya dari Detasemen Pasukan Chusus atau DPC dari RPKAD yang dipimpin langsung oleh Letnan Satu Dolf Latumahina. Mereka sudah mengantongi perlengkapan perang seperti senapan AK-47 yang saat itu masih sangat terbatas.

Selain itu, setiap prajurit juga sudah dilengkapi dengan beragam peralatan survival yang sangat cukup untuk bisa bertahan hidup.

Misi yang harus dilakukan adalah, pasukan akan diangkut dari Teluk Kupa-Kupa dari wilayah Halamahera melalui Teluk Tanah Merah di wilayah Papua menggunakan kapal selam. Setelah mendekati pantai, maka kapal selam akan muncul dipermukaan. Saat itulah pasukan RPKAD mulai memompa perahu karet menggunakan pompa udara bertekanan tinggi. Selanjutnya mereka mendayung sampai ke wilayah pantai, sementara untuk kapal selamanya akan kembali ke wilayah Indonesia.

Ancaman paling besar kemudian muncul dari kapal perang miliki Belanda yang saat itu kerap kali melakukan patroli. Sedangkan di bawah laut, terdapat 2 kapal selam miliki Belanda yang terus saja mengejar keberadaan kapal selam miliki TNI AL. Kemudian ada juga pesawat intai Neptune yang terbang sangat rendah baik siang atau malam hari. Sangat jelas, saat itu tidaklah mudah untuk bisa menembus blockade Belanda. Namun, prajurit TNI tidak gentar sedikitpun.

Tepat pada tanggal 15 Agustus 1962, 3 kapal selam yang berangkat secara sembunyi-sembunyi dari teluk Kupa-kupa. Mereka mematikan radio agar bisa menghindari adanya kebocoran informasi pada Belanda. Masing-masing kapal diisi oleh 15 orang anggota RPKAD yang sudah bersenjata lengkap.

Misi tidaklah mudah dan berjalan penuh rintangan. Saat itu, kapal selam Republik Indonesia Nagarangsang ada yang terpergok oleh kapal perang Belanda dan akhirnya mereka harus kembali ke pangkalan.

Sementara itu RI Trisula malah memberikan perintah batal pendaratan kemudian memanggil pasukan RPKAD yang sudah ada di wilayah pantai, padahal hampir saja RPKAD tepat mencapai sasaran. Perintah ini dikelaurkan karena pesawat Belanda mulai mendekat dan berputa-putar disekitar lokasi tersebut.

Saat RI Trisula membatalkan pendaratannya, ia memanggul kembali pasukan RPKAD yang sudah berada di dalam kapal selam ketiga yaitu KRI Tjandrasa.

Letnan Subagijo menggambarkan ketegangan saat terjadi pendaratan tersebut:

 “Tanggal 22 Agustus 1962 pukul 22.00 WIB, KRI Tjandrasa muncul setengah ke permukaan. Jarak dari kapal ke pantai kira-kira dua kilometer. Kemudian erahu karet dikeluarkan melalui conning tower dan dipompa siap untuk proses pendaratan,” kata Subagijo yang dikuti dari tulisan wartawan senior Atmadji dalam sebuah buku berjudul Mission Accomplished.

 Namun tak disangka-sangka ternyata cahaya terang menyinari kapal. Pesawat Neptune akhirnya menembakan beberapa peluru yang di arahkan tepat pada kapal selam.

Sesuai dengan prosedur, seluruh pasukan RPKAD akhirnya diperintahkan untuk kembali masuk. Kapal selam kemudian langsung melakukan crash dive untuk masuk ke bagian dalam laut, tujannya adalah menghindari pantauan pesawat musuh.

Setelah menjauh, akhirnya rencana kembali disuse. Dengan sangat dramatis seorang Komandan KRI, Tjandrasa Mayor Mardiono akhirnya memutuskan pendaratannya, dan akan kembali melakukan hal tersebut pada esok hari. Keputusan yang cukup dipenuhi dengan resiko, karena bukan tidak mungkin keesokan harinya Belanda masih melakukan patroli ditempat itu lagi.

Saat hari mulai gelap para pasukan dari Indonesia,kembali melakukan aksi yang sama, tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Dengan hati yang mantap satu persatu proses evakuasi pasukan dilakukan. Tidak ada pesawat ataupun kapal Belanda yang terlihat.

Semua awak KRI Tjandrasa menahan napas dalam dalam saat menyaksikan perahu karet akhirnya bisa berhasil dan mencapai sasaran dengan tepat, dan mereka benar-benar ingin memastikan semuanya aman sebelum menyelam kembali dan keluar dari wilayah Belanda.

Itulah salah satu keberhasilan yang dilakukan para awak KRI Tjandrasa yang akhirnya dihadiahi Bintang Sakti sebagai penghargaan tertingginya atas keberhasilan melakukan misi rahasia sebagai seorang TNI.

No more articles