Militer.id – Negara Indonesia dikenal dengan beragam pasukan militer yang memiliki kemampuan taktis yang sifatnya juga mematikan. Pasukan militer tersebut menjadi kebanggaan TNI di angkatannya masing-masing. Ada pula satuan khusus yang dinamakan Banteng Raiders , yang tak kalah gahar dengan pasukan militer lainnya yang ada di TNI tersebut. Pasukan benteng ini merupakan pasukan khusus yang didirikan oleh Jendral A.Yani. 

Awalnya pasukan benteng tersebut dibentuk untuk mengatasi pemberontakan yang pada saat itu dilakukan oleh Angkatan Oemat Islam, yang diprakarsai oleh DI/TII. Namun pasukan benteng ini akhirnya terus berkembang dan semakin meluas. Namun, pasukan militer tersebut pada akhirnya harus berurusan langsung dengan negara karena terlibat di dalam penculikan jendral pada saat G30S terjadi. Jendral yang menjadi korban di dalam kasus penculikan tersebut adalah Jendral A.Yani, yang pada saat itu merupakan pendiri utama dari pasukan Raiders tersebut.

Sejarah Pasukan Militer Banteng Raiders yang Didirikan oleh A.Yani

Sejarah Pasukan Militer Banteng Raiders yang Didirikan oleh A.Yani

Awalnya, wilayah Jawa Tengah sedang berada dalam situasi rawan karena munculnya Tentara Islam Indonesia yang diketuai oleh Amir Fatah. Itulah sebabnya, A.Yani pun menggalang gerakan benteng nasional dan disebut dengan pasukan militer secara khusus. Pasukan tersebut memang sengaja didirikan untuk melawan Angkatan Oemat Islam. Mereka yang tergabung di dalamnya dilatih terlebih dahulu di wilayah Magelang. Kemudian pasukan tersebut terus dikembangkan dengan personel yang diambil dari tentara serta Teritorial Diponegoro yang berada di wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga : PANGERAN DIPONEGORO : SEJARAH KETELADANAN SAAT PERJUANGAN

Pasukan militer yang didirikan oleh A. Yani ini terus berkembang sampai ke tingkat batalyon. Kemudian pasukan Raiders ini bermarkas di daerah Srondol tepatnya di Jl.Poros Yogyakarta Semarang. Namun, pasukan militer ini pernah diberi nama Batalyon 454 sebelum tahun 1966.

Batalyon ini merupakan salah satu batalyon yang anggotanya berada di Kesatriaan atau di asrama sendiri. Salah satu anggotanya yang juga pernah ditugaskan di sana yaitu Mayor Jenderal Purnawirawan Suyono, berkata bahwa ia sering bertemu dengan para perwira atau bintara yang merupakan hasil didikan dari KNIL.

Prosedur serta administrasinya sangat tertib, bahkan sistem pengaturan makan para prajuritnya, manajemen pemeliharaan beserta amunisinya, dan juga angkutan dan perminyakannya juga bisa dibilang tertib. Pasukan di dalam benteng tersebut juga pernah melakukan operasi militer dalam menumpas PRRI yang ada di wilayah Sumatera, serta peristiwa pembebasan yang terjadi di Irian Barat. Pasukan andalan mereka berada di KODAM Diponegoro dan menjadi pasukan pemukul yang sangat penting.

Tokoh yang Pernah Menjadi Bagian dari Benteng Raiders

Tokoh yang Pernah Menjadi Bagian dari Benteng Raiders

Ada banyak petinggi penting yang juga menjadi bagian dari pasukan benteng tersebut. Diantaranya yaitu Ali Murtopo yang saat itu menjadi salah satu perwira intel andalan Soeharto. Bekas komandan benteng Batalyon 454 yaitu Ali Ebram juga pernah ditarik ke Cakrabirawa. Ia merupakan orang yang mengetik naskah Supersemar yang juga memberikan wewenangnya kepada Soeharto, supaya Beliau mengamankan keadaan saat itu.

Salah satu korban dalam peristiwa G30s sama seperti A. Yani yang juga pernah menjadi bagian dari pasukan benteng adalah Letnan Kolonel Sugiono. Ia juga menjadi salah satu Pahlawan Revolusi yang ketika bergabung dengan Raiders masih berpangkat Kapten.

Perwira lainnya yang juga menjadi bagian dari Batalyon 454 adalah Untung. Yang merupakan Komandan dari G30s yang menculik para perwira angkatan darat saat itu, salah satunya adalah A. Yani yang juga menjadi korban. Masih banyak perwira lainnya yang dulu pernah tergabung di Benteng Raiders. Ada yang menjadi korban tapi ada juga yang balik menyerang pendirinya.

No more articles