Komando Pasukan Khusus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kopassus adalah pasukan elit yang berada di jajaran TNI. Namun berbeda dengan pasukan reguler pada umumnya, prajurit yang masuk ke dalam anggota kapassus akan melaksanakan tugas dan misi khusus tertentu. Misi tersebut biasanya tidak dapat dilaksanakan oleh pasukan reguler karena tidak memiliki kemampuan seperti anggota Kopassus.

Sementara itu, di dalam Kopassus juga terdapat 1 unit yang fokus menangani permasalah mengenai terror. Ini adalah Sat-81 Penanggulangan Teror (Gultor) yang sudah ada sejak tahun 1980-an.

Pasukan ini terbentuk dilatar belakangi oleh kasus pembajakan pesawat Garuda yang pernah terjadi di Thailand pada tahun 1981. Komandan pertama yang menjabat untuk pasukan ini adalah Luhut Binsar Pandjaitan dengan wakilnya Prabowo Soebianto.

Pendidikan Khusus Guna Memenuhi Kualifikasi Pasukan

Sat-81 berisikan orang-orang terpilih dari satuan elit dan pasukan TNI AD yang sudah diseleksi dengan ketat. Untuk memenuhi kualifikasi sebagai anggota Sat-81, calon anggota akan melakukan 4 tes berturut-turut.

Proses pendidikan menjadi Sat-81 akan dimulai setelah prajurit selesai mengikuti proses pendidikan para dan komando yang dilakukan di Batujajar. Setelah dinyatakan lulus dari proses pendidikan tersebut selanjutnya mereka akan ditempatkan dalam satuan tempur Grup 1 dan 2 untuk memperoleh orientasi dan mendapatkan pengalaman operasi.

Dari sana, bagi para prajurit yang ingin berlanjut masuk ke dalam satuan elite Gultor harus mendapatkan tahapan lain yang tingkatannya akan lebih sulit.

Tes pertama adalah tes IQ, mereka harus mendapatkan rata-rata nilai 110. Kemudian tahap kedua harus melakukan tes kesehatan, ketiga melakukan tes jasmani kategori BS, dan tes yang terakhir atau pantukhir.

Tes kesehatan akan dilakukan guna mengecek gangguan kesehatan pada calon prajurit apakah memiliki gangguan kesehatan yang mengganggu fungsi tubuh atau tidak. Sementara untuk tes jasmani, mereka akan dites apakah memiliki jasmanis yang baik sekali atau tidak dan tes terakhir adalah terjun kelapangan guna meninjau kemampuan calon prajurit.

Ada banyak sekali prajurit yang gugur sebelum bergabung karena memang tidak mampu melanjutkan pada tahap selanjutnya. Namun, tidak sedikit juga mereka berhasil menjadi anggota Sat-81. Proses perekrutan yang berat memang wajib dilalui para calon anggota, karena bagaimanapun juga fakta dilapangan akan lebih sulit dibandingkan tes yang akan dilakukan.

Prajurit Sat-81 Gultor mempunyai spesialisasi dengan kemampuan sangat tinggi. Mereka harus dapat menembak ruduk (bakduk) dan melakukan freefall atau terjun bebas. Di dalam Sat-81 juga terdapat regu khusus dengan kemampuan khusus lainnya yaitu pasukan katak atau paska dan K9 atau gugus jihandak.

Selain itu kualifikasi seorang personel Satgultor 81 pun secara umum akan lebih tinggi dibandingkan satuan sejenis lainnya seperti primus inter peres. Oleh sebab itulah pasukan Sat-81 akan diturunkan jika ternyata terjadi sebuah ancaman yang sifatnya sangat kompleks dan skalanya masuk kedalam kesulitan tingkat tinggi.

Perlu kamu ketahui juga bahwa palagan yang biasanya disediakan untuk anggota Sat-81 ada di dalam ruangan yang sangat terbatas, misalnya saja pesawat dan gedung, atau bisa juga diperkotaan. Bukan pertempuran secara konvensional atau yang dilakukan di dalam hutan rimba.

Itulah mengapa model operasi dalam proses tindakan dari Sat-81 dan satuan anti terror lainnya mempunyai istilah tekni yaitu pertempuran jarak dekat atau PJD, Close Quarters Battle.

Menghargai setiap pasukan khusus atau TNI regular sangatlah penting ditanamkan, saling menghargai antara sipil dan pasukan Indonesia bisa menjadi kesatuan yang amat baik, dengan begitu kerjasama antar bangsa akan terjalin tanpa harus saling bentrok antar sesama.

No more articles